10 Tahun SDK Untuk Mamuju dan Harapan Sulbar

617

Mamuju-LK, TEPAT 8 Oktober 2015 merupakan hari terakhir pengabdian Dr.H Suhardi Duka Sebagai Bupati Mamuju. 10 tahun bukanlah waktu yang singkat namun bukan pula waktu yang cukup SDK menyelesaikan segala persoalan yang terjadi di Mamuju.

Datang sebagai bupati pada tahun 2005 dengan kondisi Kabupaten Mamuju yang masih jauh dari kata maju, pria lulusan Doktor Airlangga Surabaya ini hadir menjawab persoalan dan menyelesaikan beberapa masalah yang di alami Mamuju serta mampu membawa Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat ini berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Sistem Birokrasi yang terbuka, program kerakyatan, hingga beberapa icon yang dimunculkan SDK sehingga Mamuju bisa dikenal oleh khalayak luas dan mampu menjadi simbol untuk Kabupaten Mamuju, dan akan dikenang oleh seluruh masyarakat Sulawesi Barat terkhusus Kabupaten Mamuju, Pembangunan Infrastruktur dan Perbaikan Ekonomi Rakyat Dalam mengembangkan dan memajukan suatu daerah sebuah pemerintahan yang baik, tentunnya harus mengutamakan pembangunan infrastruktur dan memperbaiki kondisi ekonomi kerakyatan.

Hal tersebut telah dilakukan oleh Dr.H Suhardi Duka selama 10 tahun memimpin Mamuju. Mulai dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari tahun 2005 (65,4%) meningkat ke tahun 2015 (69%), Angka Kemiskinan yang menurun 2005 (15,96%) menurun ke tahun 2015 (5,1%), Angka Pengangguran yang juga menurun 2005 (15,89%) menjadi 2015 (3%), hal itu membuat selama 10 tahun kepemimpinan SDK di Kabupaten Mamuju membuat pertubuhan ekonomi yang mencapai 12,5% dan hal itu menjadi Indikator kemajuan pembangunan daerah di Kabupaten Mamuju.

PERBAIKAN KESEHATAN

Kesehatan merupakan modal utama dalam melakukan segalanya, jika masyarakat kita sehat maka kita pasti mampu melakukan aktifitas sehari-hari, hal ini lah yang mendorong di awal kepemimpinan Dr.H Suhardi Duka, kesehatan menjadi prioritas yang paling utama program kerja pemerintahannya, dan program kesehatan gratis dicanangkan di Mamuju.

“Setelah sepuluh hari menjabat sebagai Bupati, saya canangkan program kesehatan gratis bagi penduduk Mamuju, untuk berobat dilayanan dasar kesehatan, seperti halnya KIS, mereka saya tidak beri kartu tetapi semua penduduk di subsidi dalam layanan kesehatan dasar. “dalam sebuah tulisan SDK jelas akhir jabatannya. (31/8/15).

Sejak saat itulah masyarakat mamuju sudah mulai berani dan terbiasa dengan layanan medis, dan kebiasaan takut dengan biaya mahal di ruang-ruang kesehatan berlahan mulai terkikis.

“Masyarakat yang selama ini takut ketemu dengan dokter karena biaya yang mahal kinimenjadi terbiasa. Bahkan sampai saat ini program kesehatan gratis semakin diperbaiki berkat kerjasama dengan BPJS untuk mengcover kurang lebih 200 ribu penduduk Mamuju “Papar Suhardi

Kurun waktu 10 tahun program tersebut dibangun secara bertahap, pusat kesehatan masyarakat hingga ketingkat Kecamatan sampai Desa.

“persoalan kesehatan berhubungan langsung dengan produktivas dan kemiskinan, semakin produktive sesesorang maka dia akan semakin sejahtera, dan sebaliknya bila rakyat tidak sehat alias lebih banyak sakit maka akan sulit bekerja, dan produktivitas akan rendah, masa depan tidak akan terjamin dan kemiskinan bertambah,” kata SDK.

PENDIDIKAN GRATIS

Setelah masyarakat sehat, untuk meningkatkan kesejahteraan kualitas pendidikan harus ditingkatkan, hal itu lah yang menjadi kerangka pemingkiran Suhardi Duka di awal-awal pemerintahannya di Mamuju.

Tahun 2006, pemerintahan gratis di Launching di Mamuju, dengan mengalokasikan anggaran yang cukup besar disektor pendidikan. Dengan program itu dilakukan subsidi kepada setiap anak/pelajar di Mamuju, untuk pelajar SMP Rp 500 ribu,dan SMA/SMK sebesar 750 ribu persiswa.

“Sekiranya saya memberikan kartu untuk tiap anak, maka itulah yang disebut Kartu Indonesia Pintar (KIP) di era Jokowi saat ini, tapi saya memilih untuk tidak menggunakan kartu. Opsi saya adalah, melakukan MoU dengan kepala sekolah untuk tidak memungut uang ada siswa sepeser pun.” dalam tulisan SDK.

Dengan kebijakan itu, sekolah mulai ramai, angka putus sekolah di Mamuju mulai menurun secara signifikan, “dengan metode ini dana yang mengalir kesekolah cukup besar. Misalnya SMA X memiliki siswa hingga 1000 orang maka dengan sendirinya akan mendapat kucuran dana sebear Rp 750 juta,”urai SDK.

Tahun 2008, kebijakan untuk peningkatan kesejahteraan pegawai khususnya tenaga pendidikan di tingkatkan, tunjangan kinerja bagi pegawai utamanya guru menjadi prioritas.

Ia memaparkan, untuk guru SMA/SMK misalnya, diberi tunjangan sebesar Rp 600 ribu perbulan, dibandingkan tunjangan kesra Rp 10 ribu per bulan. Selain itu, di bawah kepemimpinan SDK, Mamuju meluncurkan beasiswa Manakarra untuk siswa berprestasi serta beasiswa unggul Manakarra di perguruan tinggi Negeri,utamanya 9 jurusan.

Perbaikan fasilitas bagi peserta didik juga terus ditingkatkan, untuk kemudahan transportasi, Pemda juga menyediakan sarana angkutan khsusu bagi anak sekolah, khsusus nya bagi anak yang tidak mampu serta tempat tinggal yang jah dari sekolah.

BIROKRASI YANG BAIK DAN RAIHAN WTP

Dalam menjalankan semua program-program pemerintahan selama dua periode Suhardi Duka di Mamuju, salah satu kunci suksesnya adalah birokrasi yang menjadi pion utama pelaksanaan program kerja Pemerintah Kabupaten Mamuju.

Menurutnya, membina dan mengangkat pegawai adalah suatu pekerjaan yang sangat berat, karena banyak parameter yang menjadi acuan. Setidaknya itulah yang dirasakan selama dua periode kepemimpinannya di Mamuju.

Tahun 2007, pekerjaan melakukan reformasi Birokrasi di Mamuju di mulai. Peningkatan disiplin pegawai menjadi perhatian utama, salah satu cara yang dilakukan SDK adalah dengan melakukan kerjasamadengan Kodim/TNI meskipun menurutnya bukanlah cara yang profesional.

“Tapi saat itu tidak ada pilihan lain yang ada didepan saya, maka tahun 2007, Pemda melakukan MoU dengan Kodim dalam meningkatkan kedispilinan pegawai,” “dalam tulisan SDK.

Dengan ikhtiar tersebut, harus memaksa pejabat eselon agar dapat memahami perencanaan yang dibuat. Dengan APBD yang terbilang sedikit, pemerintah Kabupaten Mamuju mampu mengatasi dengan modal perbaikan di sektor eksekutif sebagai penyelenggara program pemerintah, sehingga mampu mendorong pertumbuhan, menurunkan angka kemiskinan.

Hasil yang diperoleh yaitu Kabupaten Mamuju berhasil meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 3 tahun berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan.
Di tahun pertama dan kedua Mamuju mendaat hadiah 4 Milyar dan di tahun ketiganya meraih WTP, Mamuju mendapatkan hadiah sebesar 25 Milyar.

Dengan capaian tersebut, agar Bupati selanjutnya bisa mempertahankan dan meningkatkan capaian yang telah diperjuangkannya selama 10 tahun pengabdiannya untuk Mamuju.

RELIGIUS DAN TOLERAN

Religius dan toleran bisa saja disematkan kepada pemerintahan Suhardi Duka di Mamuju, mengingat kondisi sosial masyarakat Mamuju yang beragam suku,Agama dan Ras serta sangat terbukanamun bisa terjalin harmonis dibawah kepemimpinannya.

Even-even budaya sangat ramai dilaksanakan di Mamuju dan hubungan antar umat terus terjaga . Dengan pemahaman Agama Moderat yang dimiliki SDK ia mampu mengatasi isu-isu rasial yang sangat mungkin terjadi di Mamuju.

“Pada suatu kesempatan ia mengatakan bahwa masyarakat Mamuju yang sangat terbuka dan bisa mengimplementasikan, mengakulturasikan nilai-nilai Budaya Nusantara.

“Masyarakat Mamuju menyambu baik saudara-saudara masyarakat Bali yang berada di Mamuju dengan baik serta mampu bekerj a sama dengan pemerintah .”kata SDK dalam even Masossor Manurung 2015.

MASJID RAYA SUADA, MAMUJU CITY HNGGA ANJUNGAN PANTAI MANAKARRA

Pada awal pemerintahannya di Mamuju, Suhardi Duka membuat kebijakan yang sangat Pro dan Kontra dengan membongkar Masjid agung yang telah menjadi simbol Kabupaten Mamuju dan membangun masjid Raya Suada. Namun, denagan keyakinan Masjid Raya Suhada dengan arsitektur gabungan timur barat telah menjadi salah satu Icon dan simbol bagi masyarakat Mamuju.

Selain Masjid Raya Suhada, Landmark Mamuju City yang memecahkan rekor MURI sebagai tulisan terpanjang dengan panjang 160 meter bertuliskan “MAMUJU CITY” berdiri kokoh di bukit Anjoro Pitu tepat di belakang Rumah Jabatan Bupati Mamuju “SAPOTA”.

Di akhir masa jabatannya, SDK melengkapi dengan menambah Icon khas Mamuju dengan meresmikan Anjungan Pantai Manakarra yang mampu menyedot perhatian banyak masyarakat. Pada Anjungan tersebut juga terdapat gong perdamaian yang mencermimnkan kedamaian di Kabupaten Mamuju. Pada peresmian Anjungan dan Gong Perdamaian, SDK kembali menegaskan pentingnya menjaga toleransi.

“Disini ada enam pilar yang menopang adalah simbol kecamatan yang ada di mamuju sebelum mengalami pemekaran. Ada Tapalang, Mamuju, Kalukku, Kalumoang, Budong-Budong dan Pasangkayu,” sambungnya.

“Kita berikan simbol itu agar tidak lupa akan sejarah, bahwa Mamuju ditopang oleh 6 kecamatan yang saat ini telah menjadi 3 kabupaten yaitu Kabupaten Mamuju sendiri,Kab Mamuju Utara dan Kabupaten Mamuju Tengah” papar SDK dalam sambutannya. (Mul)