H. M. Arwan Aras T. S.Kom mengggelar sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan melalui virtual

49

Mamuju, LK – Anggota DPR RI Dapil Sulawesi Barat, H. M. Arwan Aras T. S.Kom mengggelar sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan melalui virtual pada Jumat (11/06/21)

Kegiatan yang dipusatkan di Ngalok Cafe Mamuju ini diikuti oleh sejumlah perwakilan organisasi kemahasiswaan, organisasi daerah (ORGANDA) serta sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) di Sulawesi Barat.

Dalam sambutannya, Arwan Aras memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan ini.

” Saya tentu memberikan
apresiasi yang setinggi – tingginya sekaligus mengucapkan terima kasih kepada teman – teman dan para anak – anak muda yang
luar biasa menjadi inisaiator dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi 4 pilar ini,” kata Arwan.

Politisi PDI – Perjuangan ini juga menjelaskan bahwa, seperti kita ketahui bersama, persoalan yang dihadapi bangsa kita Indonesia makin beragam dan kompleks.

Lebih jauh, ia mengungkapkan, setiap hari melalui banyak saluran berita atau media, baik media elektronik, cetak maupun media online, kita disuguhkan berbagai informasi persoalan,mulai korupsi,
penegakan hukum yang belum maksimal, tindakan main hakim sendiri, pertikaian antar kelompok, etnis, suku, agama dan yang menjadi salah satu ancaman yang begitu mengkhawatirkan adalah maraknya paham intoleransi yang berkembang ditengah Masyarakat kita.

Menurutnya, keadaan ini tentulah merupakan dampak krisis Multidimensi yang tengah dihadapi bangsa ini. Begitu banyak di sekeliling kita telah
menunjukkan lunturnya nilai nilai Pancasila, UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Untuk itulah
peran empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara harus benar – benar berfungsi sebagai pilar atau penyanggah dalam membangun karakter kehidupan berbangsa kita.

” Jika kita coba untuk menganalogikan sebuah bangunan, maka Pilar adalah tiang penyangga bangunan, pilar memiliki peran yang sangat sentral dan menentukan kokoh berdirinya bangunan, karena bila pilar ini tidak kokoh atau rapuh akan berakibat robohnya bangunan yang disanggahnya. Begitupun dengan bangunan kita dalam berbangsa
dan bernegara,” terang Arwan.

Saat ini, kita sangat membutuhkan pilar atau tiang penyangga yang kokoh agar seluruh Masyarakat yang berdiam dibangsa
ini terjamin rasa nyamannya, rasa aman, tenteram serta sejahtera,”imbuhnya.

Pada kesempatan itu juga, Arwan mengurai ke 4 Pilar yang kemudian menjadi bahan diskusi pada kegiatan tersebut, dimana 4 pilar yang dimaksud itu adalah Pilar Pancasila sebagai dasar bagi tegak kokoh berdirinya negara-bangsa Indonesia dan terbukti mampu mengakomodasi keberagaman yang terdapat dalam kehidupan negara bangsa Indonesia.

Pilar lain kata Arwan adalah, Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hukum dasar yang menjadi frame atau menjadi dasar kita dalam praktek penyelenggaraan negara dan Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah
Prisip pokok hukum dan harga mati bagi kita utamanya bagi generasi dimasa akan datang, serta pilar Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah prinsip yang mengakui keberagaman sebagai kekayaan bangsa sehingga toleransi dan gotong royong senantiasa dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengakhiri sambutannya, Arwan mengaku bahwa pelaksanaan sosialisasi 4 pilar yang kita gelar hari ini, bagi saya tentulah menjadi momentum terbaik dalam membangkitkan semangat
kebangsaan, membangun kesadaran kita semua untuk semakin memahami empat pilar kebangsaan yang merupakan dasar dan acuan bagi kita semua dalam memperkokoh kesatuan persatuan berbangsa bernegara, dapat hidup saling berdampingan dengan rukun dalam bingkai NKRI. khususnya di Sulawesi Barat yang dikenal multi etnik ini, kita semua dapat hidup dengan aman, nyaman dan damai dan tentram.

Terpisah, Syarifuddin Mandegar selaku narasumber, secara ringkas menjelaskan 4 Pilar Kebangsaan.

” Ketika kita bicara 4 Pilar Kebangsaan, tentu tidak terlepas dari Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tinggal Ika,” jelas pria yang akrab disapa Udin Mandegar ini.

Lebih jauh, Udin menjelaskan bahwa Pancasila sebagai falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana jika ditinjau dalam aspek epistemologi pancasila akan membentuk pardigma bernegara, dan pada aspek ontologi pancasila adalah cerminan jati diri bangsa sehingga secara aksiologi pancasila merupakan landasan Nilai, oleh karena itu, dalam sistem demokrasi, maka pancasila adalah cerminan berdemokrasi

Sementara Undang – Undang Dasar 1945 menurutnya adalah merupakan sebuah konstruksi dasar hukum dalam berbangsa dan bernegara,” kata Udin.

Pada pilar lain, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hal yang seharusnya mengkristal dalam diri setiap generasi muda, ia semestinya menginsafi setiap generasi agar sikap nasionalisme senantiasa tumbuh subur dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Udin.

Sementara, Bhineka Tunggal Ika adalah sesuatu yang menjelaskan kepada kita semua bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan, untuk yang senantiasa harus dirawat yang tentunya dengan sikap toleransi antar sesama,” simpul Udin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here