Harsiarnas Ke 88, KPID Sulbar Gowes Menapaktilasi Penyiaran Di Kabupaten Polman

15

Polman, LK.-Puncak Hari Siar Nasional (Harsiarnas) ke 88, Komisi penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Barat Menapaktilasi Penyiaran dengan hal yang baru. Kali ini dilakukan sendiri oleh Urwa, salah satu anggota KPID SULBAR di bidang P2SP dengan bersepeda, Kamis (1/4/2021).

Kegiatan ini dilakukan secara sendiri bersepeda. Sejak dulu bersepeda sebagai hobbynya, Gowesnya mulai dari arah barat Kabupaten Polman star di LPB MAVIMA salah satu lembaga penyiaran berlangganan yang telah memiliki izin tetap dalam melakukan penyiaran ke masyarakat dari kementerian RI

Sejak pukul 08.08 wita melakukan perjalan sendiri yang berjarak 48 Km dari Kota Tinambung ke Kota polewali, melalui beberapa lembaga penyiaran yang pernah On Air di udara memberikan edukasi, hiburan kepada warga setempat dan diluar

Adapun nama-nama lembaga penyiaran yang dilalui lewat gowes adalah Radio FM Klasik di Desa Karama Kecamatan Tinambung, dan di Kecamatan Balanipa ada FM  Kelurahan Balanipa, Mercuri GARMAPALA Desa Sabang Subik/Pambusuang, BONEK Desa Bala, dan di Kecamatan Campalagian ada Radio FM Radio Komunitas Desa Suruang dan PALADO, di Desa Kenje ada SUWARNA dan Simpati, di Kompleks pasar Campalagian ada Resota dan Star FM juga di Desa Bonde.

Semua nama-nama radio yang telah disebutkan satu persatu diatas lahir sejak thn 1995 sampai thn 2014. Dan tentunya lebih senior lagi adalah radio SAWERIGADING yang beralamat Jalan Briwijaya no 8 Kecamatan Wonomulyo, inilah juga salah satu radio yang populir waktu itu. Pensnya bukan hanya orang Wono namun diluar pun lebih banyak lagi.

Puncak Harsiarnas ke 88 thn 1933-2021 telah dilakukan di Kota Solo saat ini, yang telah memiliki peninggalan bersejarah monumen penyiaran. Berbagai rangkaian kegiatan sebelumnya salah satunya adalah Napak Tilas Penyiaran sebagai temanya pada tgl 28 maret 2021. Tentunya tetap melakukan protokol kesehatan lebih utama, dengan membatasi jumlah peserta sebanyak 50 orang dan menggunakan masker dan jaga jarak. Melakukan Gowes keliling kota solo dan menyinggahi monumen penyiaran dan dihadiri oleh Ketua KPI Pusat Agung dan berserta jajarannya.

Puncak HARSIARNAS dihadiri oleh  Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, dengan puncak acara diselenggarakan di Auditorium Sarsito Mangunkusumo, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI), Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis, 1 April 2021. Pemilihan lokasi ini, tak lepas dari nilai kesejarahan gedung LPP RRI yang awalnya merupakan studio Solosche Radio Vereniging (SRV).

Mengusung Tema “Penyiaran sebagai pendorong Kebangkitan Ekonomi Pasca Pandemi,” ini hadir Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Platte, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Surakarta Gibran Rakabuming Raka, dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Acara ini juga disaksikan Komisioner KPI Daerah, Kepala Dinas Kominfo Provinsi, dan Perwakilan Lembaga Penyiaran melalui zoom meting.

“Apa alasannya memilih Gowes dan Menapaktilasi Penyiaran. Gowes atau Bersepeda adalah salah satu olahraga yang simpel. Membuat tubuh kita sehat jasmani dan rohani. Terutama pendengar kita yang lebih utama disehatkan, agar bisa mendengarkan infomasi dari penyiaran radio, dapat diedukasi. Juga indra mata kita lebih penting lagi, agar dapat menon, menyimak, memili siaran yang berkulaitas mengedukatif masyarakat dan lebih penting lagi menjaga keluarga kita terutama pada anak-anak saat nonton Tv dirumah, jangan sampai antar sesama anak nonton dan memili siaran buat orang dewasa, misalnya, film yang melakukan perkelahian. Bisa saja habis nonton hal itu dilakukan oleh anak-anak di zona bermain. Akhirnya negatif dan berimbas ke orang tua lagi,” kata urwa.

Lanjutnya, sudah terlalu lumrah melalukan atau mengunjungi sesuatu lewat roda dua dan empat bersama-sama. Kita mau buat inovasi baru, ciptakan siaran Sehat untuk rakyat, tentu sebagai dasarnya adalah rajin berolahrga untuk menjaga imun tubuh.

Kurang lebih perjalanan bersepeda sendiri 4 jam lamanya. Tiba di kota polewali di studio Radio Mario Fm 99,9 disambut dengan talkhsow bersama redakturnya, Rusman Tony dan dipandu oleh Penyiar andalnnya yang disapa I Daeng, yang bisa berbahasa mandar saat menyiar.

“Pada isi talkshwo, beberapa pens mario menelpon dengan memberikan pertanyaan dan saran di momen harsiarnas ini, agar seluruh warga indonesia dapat memperingatinya dalam bentuk menonton dan mendengarkan lembaga penyiaran beberapa menit saja, kata ipun dimanding dan mengambil hikmanya, secara edukasi buat masyarakat. Bahwasanya, kita dapat menikmati penyiaran saat ini tak lain dari jasa para pahlawan kita yang telah menemukan frekuensi radio dan beserta alat penyiaran lainnya (Jas Merah),” ujar Urwa.

Kedepannya kata Urwa, media dan masyarakat harus saling memberikan inovasi. Sebab saling membutuhkan. Tentunya dengan cara lebih banyak lagi berliterasi soal informasi dari media. Yang berkualitas, edukatif dan memberikan informasi yang imbang. Antara kebudayaan, agama, olahrga, sosial dan khusus konten lokal yang mestinya lebih didorong dan ditingkatkan lagi buat konsumsi warga sekitar

Setelah melalukan talhshow, komisoniner ini mengelilingi kota polewali disore hari. Dimana terdapat lembaga penyiaran yang juga pernah On Air seperti Radio TCK, Tipalayo milik pemda di Gedung Gadis, Radio di IAI, UNASMAN dan BIGES Polewali Mandar

Salah satu yang perlu disiapkan lebih awal suatu lembaga adalah suatu inovasi yang dilakukan secara manual kemasyarakat. Seperti mitigasi bencana, saat padam PLN, pesawat radio putus mesti ambil dimana informasi. Mislanya kemarin pasca gempa di Majene dan Mamuju, komunikasi putus dan baru beberapa hari bisa kembali normal.

“Tentunya disituasi gawat darurat, warga butuh info. Dimana sentaral mengambil air, makanan, kebutuhan bayi, terpal dan lain-lain. Maka dari itu, peran lembaga penyiaran disnilah saatnya berkasi secara manual meberikan info yang sudah jelas sumbernya dari pemerintah atau suatu lembaga yang jadi relawan,” kata Urwa.

“Andaikan saja saya pribadi, membalas para jasa-jasa yang pernah aktif baik secara hobby pun relawan dalam dunia penyiaran. Saya akan memeberikan penghargaan yang setinggi tingginya. Bahwa inilah para pelaku sejarah, yang suka dan rela menghibur masyarakat setiap saat. Semoga mereka mendaptkan rejeki yang berlimpah atas ke ikhlasan mereka buat warga secara umum,” ungkapny. (**)

Rubrik Ini Dipersembahkan Oleh KPID Sulbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here