Inovasi Kunci Kekuatan Digital Ekonomi

856

San Francisco – LK, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menyatakan inovasi merupakan kunci kekuatan digital economy. Pernyataan ini disampaikan usai mengakhiri Roadshow Menteri Ekonomi ASEAN (ASEAN Econimic Minister/AEM) ke Amerika Serikat (AS), di Silicon Valley, diantaranya Silver Spring Networks, Andreessen-Horowitz, Google, dan Prospect Silicon Valley, (18/2).

Kunjungan ini sekaligus menindaklanjuti tema di bidang ekonomi yang ditawarkan Presiden Obama yakni “Promoting an Innovative, Entrepreneurial ASEAN Economic Community.”

“Kemajuan berbasis inovasi dan teknologi di Silicon Valley menjadi cermin bagi ASEAN jika ingin mewujudkan digital economy dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan
perekonomian di kawasan,” ujar Mendag.

Mendag menjelaskan, Silicon Valley merupakan kota unik yang memiliki tiga hal penting, yaitu research, unique mindset, dan unique ecosystem. Hampir semua perusahaan di Silicon Valley berbasis software and computer science, go global, dan bersifat risk-taking, serta tidak takut gagal. Para Menteri Ekonomi ASEAN sangat terkesan dengan kemajuan perusahaan berbasis inovasi dan teknologi informasi di sana.

Silver Spring Networks misalnya telah mampu menawarkan smart energy platform yang memodernisasi infrastruktur jaringan listrik menjadi jaringan ‘pintar’ untuk meningkatkan efisiensi energi.

Sementara Andreessen-Horowitz merupakan perusahaan yang bergerak di bidang modal ventura yang memiliki spesialisasi dalam memfasilitasi dan membantu pelaku usaha mempercepat pencapaian targetnya mengembangkan produk inovasi, bisnis, dan pemasaran, serta membangun merek/brand.

Dalam kunjungan ke Google, para Menteri Ekonomi ASEAN yang selalu didampingi pihak United States Trade Representative (USTR), diperkenalkan dengan tiga produk baru Google. Salah satunya adalah proyek inovasi “Loon Internet.” Proyek ini tampak sederhana, lebih murah daripada “Tower Internet”, namun dampaknya cukup luar biasa.

“Loon Internet dapat menyediakan jaringan internet bagi masyarakat di daerah yang sangat terpencil, miskin, dan baru terkena bencana. Hsistem Loon Internet seperti balon internet yang bergerak mengikuti arah angin, namun tetap dalam kontrol Google. Produk ini rencananya akan diuji coba di Indonesia pada Maret 2016,” ungkap Tomas Lembong.

Produk lainnya yang juga sudah mulai digunakan di Indonesia dan ditawarkan ke ASEAN dalam rangka membangun digital economy di masa yang akan datang adalah Mobile Internet Economy. Produk yang sudah banyak digunakan masyarakat antara lain Google Search (aplikasi pencarian), Youtube offline, dan translate. Disamping itu, Google juga sedang mengembangkan mobil tanpa awak sebagai proyek inkubator.

Tom Lembong menuturkan para Menteri ASEAN di Silicon Valley juga ditunjukkan Prospect Silicon Valley. Ini sejenis organisasi nonprofit di bidang teknologi dan program inovasi pemerintah (public- private project) untuk menciptakan solusi energi, transportasi, serta penciptaan lingkungan yang ramah dan efisien.

Organisasi ini menyatukan para inovator dari pemerintah, perusahaan, dan akademisi melalui start-ups dan tim pengembangan produksi untuk mempercepat komersialisasi dan adopsi teknologi baru. Hingga saat ini Prospect Sillicon Valley telah membuktikan eksistensinya sebagai solusi permasalahan urban melalui proyek-proyek di lebih dari 50 kota, dengan pembiayaan sebesar USD 50 juta dari 25 perusahaan sponsor.

“Silicon Valley harus menjadi dorongan bagi ASEAN secara umum, dan Indonesia secara khusus, untuk segera mengubah mindset, terus berpikir inovatif tanpa takut gagal,” tegas Tomas Lembong.

Indonesia, kata Tom Lembong, harus siap berkompetisi agar dapat meraih cita-cita menjadi negara digital economy terbesar di Asia Tenggara. Upaya tersebut pada akhirnya juga akan berkontribusi signifikan dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan Indonesia di masa depan.(AL)