Komite Medik RUSD Sulbar : Tidak benar pasien meninggal karena aksi mogok dokter

432

Mamuju (LK)- Menanggapi kabar meninggalnya pasien di RS Regional Sulbar atas nama Amming asal Karossa yang mengidap infeksi paru-paru komite medik RS Regional Sulbar memberikan klarifikasi melalui konfrensi pers di sekretariat IWO Sulbar (Ikatan Wartawan Online) Jl.Pababari Mamuju.Sabtu (7102017).

Dokter Dewi yang menangani pasien tersebut mengatakan ” Pasien masuk 30 september 2017 pukul 03.25 dini hari dengan keluhan sesak nafas dan batuk darah massif,batuk yang sudah lama sekali dengan kondisi lemah.Kemudian dokter IGD (instalasi gawat darurat) mengkonfirmasi ke saya dan saya mengintruksikan bahwa terapinya untuk pasien ini dengan obat-obatan dan oksigenasi untuk membantu pernafasannya”.

Lanjutnya “Pasien kemudian masuk diruang isolasi dan di pindah keruangan maleo, diruangan pasien mendapat terapi sesuai dengan kondisi dan keluhan pasien yaitu pasien sesak dan batuk darah. Kemudian kita periksakan laboratorium darah dan foto rontgen Dari hasil lab didapatkan tanda lekosit infeksi paruh yang meningkat kemudian didapatkan gambaran infeksi dikedua paru yang berat juga artinya kondisi parunya sudah rusak parah.Tidak ada ruang dalam paru itu yang sehat semua sudah terinfeksi oleh kuman sehingga pasien banyak banyak mengeluarkan batuk darah”.

masih kata dokter dewi “Dokter sudah menangani pasien sesuai dengan prosedur”.Pasien kita sudah tangani semaksimal mungkin tapi kondisi semakin menurun hal ini sebabkan pendarahan di paru pasien tersebut banyak sekali hingga hari ke empat dirawat pasien kemudian tidak tertolong, pasien tidak dirujuk karena kita menganggap masih bisa ditangani disana” sambungnya.

Senada dengan dokter Dewi,Dokter Harpandi Rahim menegaskan bahwa “Pasien tersebut meninggal tanggal 4 oktober sementara pernyataan mogok kerja itu tanggal 6 oktober, Jadi tidak hubungannya meninggalnya pasien dengan aksi yang kami lakukan” ungkapnya.

Aksi mogok dokter yang terjadi RS Regional Sulbar hingga saat ini masih berlanjut. Pemerintah Sulbar sementara melakukan mediasi agar aksi mogok tersebut berhenti dan pelayanan kesehatan dapat kembali berjalan normal.Untuk di ketahui salah satu penyebab aksi mogok dokter dipicu oleh banyaknya sarana prasaran di rumah sakit ibu kota sulbar yang tidak standar diantaranya ruang operasi yang berlumut serta hanya ada satu buah lampu sebagai penerang ruang operasi.(mul)