Petani Porang Masih Hadapi Kendala

84

Majene, LensaKhatulistiwa.com – Para petani Porang di Kabupaten Majene masih menghadapi beberapa kendala, diantaranya, sumber bibit unggul belum tersedia secara kontinyu, pemahaman tentang budidaya dan kendala dalam pemasaran.

Hal ini, dinyatakan Wakil Bupati Majene Arismunandar saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya dan Percepatan Ekspor Komoditas Porang dari Balai Karantina Pertanian Mamuju, di Hotel Villa Bogor Leppe Majene, Kamis (30/09/21).

Ia mengucap atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majene terima kasih dan apresiasi kepada Karantina Pertanian Sulbar Kementerian Pertanian (Kementan) RI serta para narasumber baik secara virtual maupun secara tatap muka atas terselenggaranya bimtek yang akan berbagi informasi tentang porang kepada para petani.

“Budidaya porang di Majene terdapat di Desa Bukit Samang Kecamatan Sendana sebanyak 8.000 umbi dengan luas 1 hektar dan di wilayah Kelurahan Baruga Kecamatan Banggae Timur sebanyak 34.000 umbi dengan luas 5 hektar,” terangnya.

Diungkapkan, untuk rencana pengembangan porang ke depan akan di laksanakan di setiap kecamatan di Majene yang mulai berjalan, baik perorangan maupun kelompok telah mengajukan permohonan untuk ikut dalam program pengembangan porang melalui Pola Off Taker.

“Dari data ini dapat disimpulkan bahwa komoditas porang berperan penting bagi perekonomian daerah serta menjanjikan bagi para petani. Karena itu rencana pengembangan porang harus mendapat dukungan dan perhatian dari Pemerintah Pusat maupun daerah untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, maju dan modern,” pintanya.

Guna melakukan ekspor porang lanjut Arismunandar, tentu tidak semudah dengan memasarkan dalam negeri karena terdapat prosedur dan persyaratan yang mesti dilengkapi. “Melalui bimtek ini dapat menjadi forum berbagai pihak yang akan memberikan pemahaman kepada petani tentang bagaimana memproduksi porang yang berkualitas hingga bisa memenuhi pasar Internasional,” ujarnya.

Kegiatan bimtek sambungnya, sejalan dengan Program Strategis Kementerian Pertanian Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Komoditas Pertanian (GRATIEKS) merupakan program menambah ragam komoditas dan menambah volume ekspor yang diharapkan dapat membangun pertanian di Majene dan Pemerintah daerah terus bersinergi, berkoordinasi dan menyelaraskan program pemerintah pusat agar program GRATEKS lancar, sukses dan berhasil serta mampu mewujudkan pertanian mandiri, maju dan modern untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Majene.

“Saya mengajak jajaran Pemerintah Daerah Majene, pelaku usaha dan petani porang untuk aktif dan partisipatif agar mampu mencapai target kita bersama,” harapnya.

Arismunandar menyarankan, kepada para petani porang agar tidak mudah menyerah bila menghadapi kendala di lapangan, karena setiap usaha tentu akan menghadapi rintangan dan tantangan. “Kepada para petani agar membuat kemitraan dengan pengusaha porang (Perusahaan) dan pengusaha pupuk organik, serta adanya pendampingan dari perbankan dalam bentuk KUR,” pintanya.

Sementara, Panitia Junarli Sali melaporkan, bimtek sekaligus menyosialisasikan gerakan strategis pertanian dan menjadikan komoditas porang menjadi kualitas eksport yang menjanjikan, serta mendorong Pemerintah Daerah agar dapat membuat porang menjadi kualitas eksport yang mumpuni. “Sosialisasi ini diikuti sekitar 38 orang yang terdiri dari berbagai kalangan dan para petani porang yang ada di Majene,” urainya.

Kesempatan sama, Wakil Rektor Unsulbar Anwar Sulili menuturkan, bimtek sangat monumental dalam rangka menysosialisasikan dan menggerakkan dalam meningkatkan komoditas porang untuk kesejahteraan masyarakat. “Dewasa ini Kementan RI fokus pada dua komoditas unggulan, yaitu porang dan burung walet dan semua butuh modal yang cukup besar,” bebernya.

Diungkapkan, porang di Sulbar berpotensi sangat besar untuk dikembangkan, bahkan pihak Kampus sangat mendukung menyangkut pengembangan tanaman porang serta pihak dosen dan mahasiswa bersedia untuk dilibatkan dalam pengembangan porang di Sulbar dan khususnya di Majene.

“Yang perlu diperhatikan disini setelah panen adalah hal pemasaran. Dan diharapkan agar jangan dijual dalam bentuk umbi lebih baik dijual dalam bentuk chip dan tepung, agar mempunyai nilai jual yang tinggi dan yang membeli juga tidak dapat menanamnya,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Karantina Pertanian Sulbar Indra Dewa mengatakan, komitmen dari Kementan RI dalam arahan Menteri Pertanian yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian tentang komoditas ekspor, sehingga menghadirkan para petani dengan narasumber.

“Ditengah Pandemi seperti ini, maka komoditas pertanian yang dominan mendukung naiknya tingkat perekonomian di Indonesia, termasuk didalamnya adalah komoditas porang,” akunya.

Hadir dalam bimtek, mantan Bupati Majene H. Lukman, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian RI yang diwakili Koordinator Kelompok Substansi Karantina Tumbuhan Benih Abdul Rahman, Kadis Pertanian Majene, mewakil Dandim 1401 Majene, para petani porang, para narasumber, Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar Prof. Dr. Ir. Khaemuddin, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulbar Syamsul Ma’arif, Kadistaknakbun, Kepala Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian Sulbar Kementerian Pertanian RI diwakili Marthen P. Sirappa, Guru Besar Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin Makasar Prof. Dr. Ir. Ade Rosmana.(Arb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here