Satnarkoba Ringkus Pengedar Narkoba

96

Majene, LensaKhatulistiwa.com – Satuan Reserse Narkoba Polres Majene meringkus pengedar Narkoba inisial S (25) setelah melancarkan aksinya mengedar Obat-obatan terlarang jenis Trihexyphenidil (Bojek) di wilayah hukum Polres Majene.

Inisial S kini diamankan di rumah tahanan Polres Majene. “Pelaku telah melakoni aksinya menjual dan mengedarkan obat-obatan sejak 2019 lalu dan kini terungkap atas informasi masyarakat yang merasa resah dengan aksinya,” terang Kapolres Majene AKBP Febryanto Siagian pada press release, di Aula Mapolres Majene, Senin (23/08/21).

Dijelaskan, terduga pelaku diringkus di Dusun Leba-leba Desa Tammerodo Utara Kecamatan Tammerodo, pada Kamis (19/08/21) lalu. “Ditangan pelaku diamankan barang bukti berupa 1.070 butir Bojek ditambah 20 butir Bojek dari pembeli, Hand Phone dan uang tunai hasil penjualan sebanyak Rp425.000,” jelasnya.

“Berdasarkan pengakuan terduga pelaku, obat-obatan diedarkan kepada para nelayan dan buruh bangunan seharga Rp5000 per tablet. Ya seperti pepatah, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga, artinya sebaik apapun kejahatan disembunyikan pasti akan terungkap,” urai Kapolres.

Diterangkan, kejadian berawal dari informasi bahwa adanya barang yang dikirim ke wilayah Kabupaten Majene yang mencurigakan lewat kurir Tiki. “Kurir ini atas nama Ashad mengaku tidak tahu menahu apa isi dari paket yang akan diantarkannya. Selanjutnya setelah diselidiki lebih lanjut diketahui pemilik obat-obatan adalah inisial AR,” jelasnya.

Selanjutnya AR diamankan di Lampa Kelurahan Mapilli Kecamatan Mapilli Kabupaten Polewali Mandar bersama barang bukti sebanyak 10.000 butir Bojek. “Alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar, sebagaimana dimaksud dalam rumusan Pasal 197 subs Pasal 196 Undang undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan,” jelasnya.

Selain itu, juga Pasal 196 UU Kesehatan menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) di pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 000 000 000,00 (satu miliar rupiah).

Pasai 197 UU Kesehatan menyatakan bahwa, setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sedaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 ayat (1) di pidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp1.500 000 000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

“Terkait pengungkapan pengedaran obat-obatan terlarang ini, secara pribadi terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan informasi sehingga sangat membantu Polisi dalam pengungkapan kejahatan yang ada,” ucap Kapolres Majene.(Srl)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here