Siswa Belajar Musik Tradisional Calong di Museum Mandar

24

Majene, LensaKhatulistiwa.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Majene mengadakan Belajar bersama musik Calong di Museum Mandar Majene dengan protokol kesehatan yang ketat, Kamis 04/11/21).

Belajar bersama musik tradisiponal Calong yang merupakan seni budaya Mandar, dibuka Kepala Disbudpar Majene Hj. Andi Beda Basharoe dihadiri 60 peserta dari siswa-siswi tingkat SMP dan SMA dan perwakilan sekolah dengan menghadirkan narasumber, yakni Ihsak bersama Kaimuddin.

“Belajar di Museum ini, kami yakin dan percaya Museum bukanlah hanya tempat menyimpan barang kuno, barang antik dan sebagainya, tetapi Museum juga dapat menjawab tantangan dari masyarakat dengan cara membuat sebuah inovasi,” ujarnya.

Dijelaskan, kegiatan belajar bersama di museum Mandar berasal dari Dana Alokasi Khusus non fisik BOP-MTB 2021 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. “Saya menyampaikan apresisasi kepada para kepala sekolah yang telah mengutus anak didiknya untuk mengikuti kegiatan ini,” ucapnya.

Melalui belajar bersama musik tradisional Calong merupakan implementasi Undang-undang Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Kemajuan Kebudayaan Khususnya Pokok-pokok pikiran Kebudayaan Daerah. “Dalam Undang-undang ini, juga termasuk didalamnya kegiatan belajar bersama musik tradisional Calong ini,” jelasnya.

Saat ini lanjutnya, musik tradisional Calong sangat jarang dilaksanakan atau didengarkan, dan diharapkan dapat dikembangkan dalam rangka menambah wawasan dan skill para siswa-siswi untuk belajar bersama musik tradisional calong. “Jadi saya mengharapkan kepada para peserta untukserius mengikuti kegiatan ini,” harapnya.

Lebih jauh Andi Beda menguraikan, bahwa di seputar museum Mandar terdapat lebih 1000 koleksi, diantaranya biologika, sejarah, serta jenis lainnya. “Untuk mempromosikan dan meningkatkan wawasan siswa-siswi tentang budaya lokal dan mengetahui peradaban masa lalu Mandar tentunya melihat sejumlah koleksi tinggalan sejarah di museum untuk tetap dilestarikan,” ungkapnya.

Museum Mandar di Indonesia sambungnya, yaitu Afdeling Mandar (Belanda Afdeeling Mandar), adalah salah satu wilayah administrasi afdeling dibawah Gubernemen Sulawesi dan Dependensinya, Gubernemen Groote Oost.

“Afdeling ini dibentuk pemerintah Belanda berdasarkan Staatblad Nomor 325 Tahun
1916, yang menggabungkan wilayah bekas Kerajaan PituBa’ba Binanga dan Pitu Ulunna Salu menjadi sebuah wilayah administrasi. Pemerintahan lokal di afdeling ini terdiri dari 14 wilayah kerajaan dan ibu kotanya adalah Majene. Afdeling Mandar dibagi menjadi lima wilayah Onderafdeling yang di kepalai seorang Kontrolir atau pengawas dan dijabat orang Belanda,” paparnya.

Dituturkan, Afdeling Mandar terdiri dari Onderafdeling Majene, Onderafdeling Polewali, Onderafdeling Mamasa dan Onderafdeling Mamuju. Pemerintahan dijalankan Belanda, namun kerajaan lokal tetap berjalan sesuai adatnya. Meskipun tidak memiliki persenjataan perang.

“Majene adalah salah satu Kota tua peninggalan Belanda di Indonesia. Dimasa kolonial, Belanda mendirikan enam pusat pemerintahan di Pulau Sulawesi, salah satunya adalah di Majene sebagai pusat pemerintahan di Sulawesi Barat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada 1905 tempat ini dijadikan penampungan tentara belanda. Dan pada 1908 dibangun rumah sakit khusus orang Asing yang bermukim di Mandar, dengan nama Boyang Tomonge (Rumah Sakit). “Pada 1910 dioperasikan dan pada 1917, berubah menjadi rumah sakit umum pada 1925 sebagai rumah sakit rujukan kolonial Belanda,” pungkasnya.(Ahi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here