Wabup Dampingi Gubernur Kunjungi Museum

114

LensaKhatulistiwa.com, Majene – Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar didampingi Kepala Dinas Pariwisata Sulbar Farid Wajdi, Wakil Bupati Majene Arismunandar, Kepala Disbudpar Majene Andi Beda Basharoe serta jajarannya mengunjungi Museum Mandar Majene.

Kunjungan Pejabat nomor satu di Provinsi Sulbar ini, setelah pembukaan Festival Kota Tua Majene yang dibuka Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI) Sandiaga Salahuddin Uno dalam jaringan (Daring), di ruang Pola Kantor Bupati Majene, Jumat (06/08/21).

“Pembukaan Festival Kota Tua Majene sekaligus memeriahkan kegiatan Hari Jadi Majene (HJM) ke-476 yang akan digelar pada (15/8/2021) mendatang,” tutur Wakil Bupati Majene Arismunandar kepada sejumlah awak media.

Arismunandar berharap, semua pihak harus melestarikan nilai lama yang baik dan menggali budaya baru yang lebih baik.¬†“Pemkab Majene, selain merevitalisasi Museum Mandar Majene sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan, juga akan tetap mempertahankan peninggalan sejarah kebudayaan yang ada di Bumi Assamalewuang,” paparnya.

Ditempat yang sama, Kepala Disbudpar Majene Andi Beda Basharoe menjelaskan, lomba pidato bahasa Mandar akan digelar pada 7 Agustus bertepatan dengan Festival Kota Tua yang merupakan program Dinas Pariwisata Sulbar.

“Event Kota Tua Majene akan digelar pada 6 sampai 8 Agustus 2021, di Pelataran Boyang Assamalewuang. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mensukseskan perhelatan Festival Kota Tua sekaligus memeriahkan Hari Jadi Majene,” ujarnya.

Diungkapkan, sejumlah program kegiatan yang akan digelar itu, pihak Disbudpar Majene tentu saling bersinergi dengan Dinas Pariwisata Sulbar agar pelaksanaan kegiatan Festival Kota Tua dapat berjalan sukses.

“Pada tahun kemarin Disbudpar Majene juga melaksanakan kegiatan Lomba Mewarnai Gambar yang ditujukan bagi anak-anak dalam rangka menopang kegiatan Kabupaten Layak Anak (KLA) yang mana Majene masuk sebagai Perwakilan Sulbar ketingkat Nasional,” paparnya.

Dijelaskan, festival lomba bahasa Mandar untuk memajukan kelestarian bahasa Mandar meski dalam bahasa mandar punya aksen atau dialeg yang berbeda-beda setiap kampung atau wilayah akan berbeda dalam hal penyebutan sesuatu benda.

“Kriteria lomba, karena masih banyak anak-anak kita yang sampai saat ini sukar berbahasa Mandar yang baik dan benar, terutama dalam hal artikulasi, sopan santun dan penampilan sebagai orang Mandar. Untuk kriteria penilaian, diantaranya teknik berpidato, Bahasa atau artikulasi, penampilan dan isi pidato atau materi pidato,” terangnya.

Dihadapan para undangan yang hadir, Andi Beda Basharoe menguraikan, lomba pidato bahasa Mandar dengan tema Bahasaku Identitasku, merupakan kegiatan yang ketiga kalinya dan sudah menjadi agenda tahunan.

“Lomba pidato ini sumber dananya berasal dari DAK (Dana Alokasi Khusus) non fisik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Untuk pesertanya dari PKK kecamatan se-Kabupaten Majene,” jelasnya.

Dituturkan, peserta yang akan mengikuti lomba pidato sebanyak 1 orang setiap kecamatan untuk memperebutkan juara 1, 2 dan 3. “Pelaksanaannya di arena Museum Mandar Majene, dan yang meraih juara akan mendapatkan uang pembinaan, plakat dan piagam. Untuk tema atau materi pidato yang akan dilombakan nanti, adalah tentang Covid-19, kelestarian Bahasa Mandar, kelestarian lingkungan stunting, kelestarian situs Kota Tua, Hari Jadi Majene, tentang kepariwisataan dan peran PKK dalam pelestarian budaya Mandar,” urainya.

Ia menambahkan, seluruh peserta harus tampil menggunakan Sutra Mandar atau Sa’be Mandar. “Untuk yang meraih juara I akan tampil pada malam puncak festival Kota Tua. Semua peserta diwajibkan menyisipkan Kalindaqdaq didalam pidatonya,” ucapnya.(Srl)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here